Seni Melihat Dalam Fotografi

Diposting oleh Wikey on May 3, 2010




Fotografi itu sebenarnya seni melihat, bukan seni memotret," kata Julian Sihombing, fotografer senior Harian Kompas, dalam suatu diskusi di Pontianak, Kalimantan Barat.

Beberapa jam menjelang kembali ke Jakarta, Senin, fotografer senior itu bersama sejumlah fotografer profesional lain, membagi pengalaman kepada mahasiswa arsitektur dari Universitas Tanjungpura, anggota klub fotografi dan fotografer media di Kota Pontianak.

Meski tampak lelah sehabis memotret (Art Fotografi) berbagai aktivitas warga Kota Singkawang, namun ayah dua putra tersebut tetap semangat membagikan ilmunya. Di depan ratusan peserta diskusi, ia mengatakan, revolusi bidang fotografi terjadi pada 10 tahun terakhir yang ditandai adanya fotografi digital yang bagai jamur bermunculan di mana-mana.

Namun redaktur foto Kompas tersebut mengingatkan kita agar jangan menilai gambar yang dihasilkan dari pemotretan karena kamera yang digunakan. "Tetapi cita rasa kita yang berakhir dengan kamera," katanya.
Kamera, menurut ia, memang memudahkan untuk bekerja, tetapi bukan segala-galanya. Sehingga ia pun menyebut fotografi itu sebagai bagian dari seni melihat dan bukan seni memotret. Kepada fotografer muda, Julian yang sudah menekuni dunia fotografi sejak tahun 80-an dan selama tujuh tahun berkonsentrasi di peliputan foto olahraga itu, menyatakan jangan pernah berkecil hati.

"Tehnik dasar memang diperlukan, tetapi bagaimana kita melihat dan merasakan," kata alumnus Universitas Indonesia tahun 1980 itu.
Julian pun mengingatkan, jika ingin terjun ke dunia fotografi (Art Fotografi), maka diperlukan ketekunan dan konsentrasi. Semakin dekat dengan dunia fotografi, seseorang akan semakin peka terhadap suatu peristiwa atau obyek yang akan diambil. Sementara banyak orang menilai faktor keberuntungan selalu menghampiri Julian.

Fotografer itupun menampilkan sejumlah karya jurnalistiknya yang pernah dimuat di Harian Kompas. Salah satunya, foto penumpang kereta api yang berjejal di atas gerbong yang sedang melaju kencang.
Untuk menghasilkan karya foto tersebut, pria kelahiran 15 Januari 1959 tersebut melakukan riset terlebih dahulu.

Riset diperlukan untuk melihat foto apa saja yang sudah pernah diambil orang untuk obyek.
"Dan jangan sama lagi. Saya mengambil dari atas gerbong," katanya meski mengakui tindakan itu cukup berisiko.

vibizdaily.com

{ 1 komentar ... read them below or add one }

Anonymous said...

mantap tulisannya, Gan!
:)

http://manshurzikri.wordpress.com

http://kolomananto.wordpress.com