Hobi Naik Gunung jadi Bisnis Sewa Tenda

Diposting oleh Wike Furyandi on Jan 12, 2010





Hobi naik gunung sewaktu mahasiswa tak hanya berujung pada kepuasan batin. Bagi Bintoro Purnawan (30), hobi tersebut berkembang menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan di kemudian hari. Untuk ukuran mahasiswa, peralatan naik gunung milik Bintoro yang waktu itu kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) "Veteran" Yogyakarta terbilang lengkap. Ia punya tas punggung berukuran besar dan satu set tenda. "Waktu itu saya sering dimarahi orangtua karena terkesan menghabiskan uang untuk kegiatan yang tidak perlu," katanya sambil tertawa.

Lama-lama, Bintoro yang telah menaklukkan sejumlah gunung di Pulau Jawa ini mengaku mulai merasakan kebenaran kata-kata orangtuanya. Untuk membeli peralatan naik gunung ia memang menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Namun, setelah turun gunung, peralatan itu sama sekali tidak ia butuhkan dan malah laris dipakai secara bergiliran oleh teman-temannya.

Melihat kenyataan itu, Bintoro mendapat ide untuk menyewakan peralatan naik gunungnya. Awalnya, usaha penyewaan atau jual tenda itu dilakukan dalam lingkup anggota mapala (mahasiswa pencinta alam). Setelah lulus kuliah, ia semakin serius menggarap usaha penyewaan tersebut dengan mendirikan Bivak Adventure.

"Sejak awal, saya tahu bisnis ini menjanjikan. Kebanyakan mahasiswa pasti sulit kalau harus membeli peralatan yang harganya cukup mahal. Jadi, kalau ada yang menyewakan, mereka pasti pilih itu," ucap Bintoro.

Pasar

Pangsa pasar usahanya semakin luas. Selain mahasiswa yang hobi naik gunung, kegiatan pramuka, outbound, dan segala jenis kegiatan di alam bebas membutuhkan alat-alat yang ia sewakan.

Di toko Bivak Adventure yang terletak di Jalan Kaliurang Kilometer 5, Tawangsari, Kota Yogyakarta, Bintoro menyediakan berbagai peralatan, mulai dari jual tenda, matras, kantung tidur, tas, tali, lampu, kompor, hingga handy talkie (HT). Dengan meninggalkan dua kartu identitas, mereka bisa membawa peralatan itu.

Tarif sewa setiap alat ditentukan berdasarkan harga beli alat itu dan lama peminjaman. Tenda berkapasitas empat orang, misalnya, disewakan Rp 25.000 per hari. Sementara itu, HT berkisar antara Rp 20.000-Rp 25.000 per hari.

Awal tahun pelajaran selalu menjadi masa panen buat Bintoro. Kampus dan sekolah sedang sibuk dengan orientasi mahasiswa baru sehingga permintaan alat komunikasi dan jual tenda melonjak hingga membuatnya kewalahan. Kalau sudah begitu, omzetnya per bulan bisa mencapai puluhan juta rupiah. "Pokoknya selama masih ada kampus dan sekolah, usaha ini akan berjalan," ujarnya.

Begitulah Bintoro, seperti tanpa rencana memulai bisnis persewaan peralatan naik gunung dan kemping. Bisnis terkadang memang tak jauh berada dari hobi. Padahal, pada mulanya hobi selalu dinilai pemborosan uang demi kesenangan. Nyatanya, lambat-laun hobi pun bisa menghasilkan uang, seperti yang ditekuni sekarang oleh Bintoro.

cetak.kompas.com

{ 0 komentar... read them below or add one }