Kursus Anak, Ambisi Orang Tua atau Prestasi?

Diposting oleh malamjumat on Oct 13, 2009



Mengapa ada sebagian anak yang bersemangat mempelajari bidang yang ia ikuti dalam sebuah kursus (bahkan tak sabar menunggu datangnya jadwal kursus berikutnya), sementara sebagian anak lain ogah-ogahan mengikuti kursus ) walaupun diiming-imingi berbagai hal yang jadi kesukaannya)? Baik itu kursus pelajaran formal maupun ekstrakurikuler seperti kursus musik, kursus tari, dll. Mengikuti kursus, bagi anak, pada dasarnya dilakukan berdasarkan dua hal. Yaitu, atas keinginan orangtua dan anak itu sendiri.

Menurut konsultan pendidikan Emmy Soekresno, umumnya anak mulai mengikuti kursus setelah masuk Sekolah Dasar. Biasanya, dia mulai memiliki minat pada bidang tertentu, misalnya musik, seni lukis, tari, suara atau bahasa. "Sebelum usia itu, kebanyakan anak mengikuti kursus dengan bidang yang dipilihkan orangtua, tergantung ambisi orangtuanya," ujar Emmy. Kursus atas pilihan orangtua inilah, lanjut Emmy, yang kemudian membuat anak sering menolak ikut atau malas mengikuti kursus, karena ia tidak menyukai bidang yang dipilihkan.

Akibatnya, kursus yang sebelumnya bertujuan untuk menambah pengetahuan anak, justru menjadi beban baginya. Bahkan, tidak mungkin dalam tingkat yang lebih parah, akan menyebabkan trauma. Belum lagi, bila orangtua mendaftarkannya ke berbagai macam kursus, sehingga nyaris tiap hari ia harus mengikuti jadwal tersebut.

Selain kehilangan waktu bermain, terlalu banyak kursus akan membuat anak menjadi jenuh, terutama bila ia tidak menyukai bidang yang ia ikuti walaupun guru anak sangat profesional dan berpengalaman. Emmy menyarankan, cukup 1-2 kali seminggu anak mengikuti kursus, untuk melatih teknik-teknik tertentu. "Pengembangannya bisa dikerjakan di rumah bersama orangtua, agar anak merasa ada hal yang sama yang dikerjakan di rumah dan di tempat kursus," papar Emmy.

Dengan demikian, imbuh ibu empat anak ini, anak tidak akan merasa bosan untuk pergi ke tempat kursus. "Ikut kursus akan menambah life skill anak jika porsinya tepat, tapi dapat berbalik merugikan jika kemudian anak menjadi trauma atau takut terhadap hal tertentu, yang nantinya akan menghambat anak belajar," tandas Emmy mengingatkan.

{ 0 komentar... read them below or add one }