Membuat Kerajinan Kayu Kualitas Ekspor

Diposting oleh malamjumat on Jun 9, 2009


Dulu, tunggak kayu jati dan kelengkeng, oleh masyarakat hanya dijadikan kayu bakar atau arang. Sekarang, akar kayu yang usianya ratusan tahun itu, justru menjadi bahan kerajinan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Memang, mengubah limbah menjadi bahan berharga, tidak semua orang mampu. Adalah Drs HM Arwan, warga Dusun Pare, Desa Blondo, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. Usaha yang dirintis sejak 1998 itu, kini membuahkan hasil. Sebab kerajinan limbah kayu itu, telah memenuhi pasar ekspor, yakni Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Belanda, Australia, Saudi Arabia, Kuwait, Malaysia, dan Korea.

Puluhan tenaga kerja yang setiap hari membuat
handicraft/kerajinan dari limbah kayu tersebut, seperti meja makan, sekat ruangan berbentuk burung, etalase taman, patung Budha, meja kursi, orang hutan, dan segala macam binatang. Di antaranya, harimau, gajah, ular hingga monyet ada di sana.

’’Untuk membuat kerajinan kayu limbah/
wooden handicraft ini, membutuhkan waktu dua minggu hingga empat bulan, tergantung bentuk kerajinan yang dibuat,’’ katanya.

Harga kerajinan yang ditawarkan, mulai dari Rp 250.000 hingga Rp 35 juta. Semua tergantung kerajinannya. Semakin tua akar kayu, semakin bagus hasilnya, termasuk harganya lumayan tinggi.

Kerajinan akar kayu
wooden export ini, membutuhkan kecermatan dan kreativitas seni tinggi, karena tidak semua orang bisa memahat ranting-ranting akar tersebut.

Kreativitas yang dihasilkan, setelah terjadi krisis ekonomi pada tahun 1998 lalu. Sebab krisis ekonomi saat itu, memaksa seseorang untuk memeras otak agar bisa menghasilkan sesuatu, dan hasilnya seperti ini.

”Kalau tidak terjadi krisis, barang kali tidak muncul ide seperti ini,” ujar Drs HM Arwan kepada Wawasan, kemarin.

Pada awal 1998, masih banyak akar kayu yang umurnya ratusan tahun. Tapi sekarang, cukup sulit mencari bahan dasar
wooden handicraft. Limbah kayu, seperti akar jati, dibeli dari Bojonegoro, Ngawi dan Tuban, Jawa Timur.

Cukup banyak
Sedangkan akar (tunggak) kayu mahoni dan kelengkeng, diperoleh dari Temanggung dan Magelang.

Bahan baku kelengkeng, masih cukup banyak, terutama dari Magelang, Temanggung, Kabupaten Semarang dan lainnya. Hanya saja, untuk akar kayu jati mulai kesulitan, karena kayu di Jawa sudah mulai berkurang, terutama kayu hutan yang usianya ratusan tahun.

Sebelum dipahat atau diukir, akar kayu dibiarkan terlebih dahulu di ruangan terbuka agar terkena hujan dan panas. Saat dijemur kena hujan dan panas tidak rusak, berarti kualitas kayu benar-benar bagus. Sebaliknya, kalau rusak, berarti kualitas kayu jelek.

Untuk membuat
handicraft export, hanya satu kali dikerjakan (dibuat). Jika dalam mengerjakan kerajinan tidak cermat, secara otomatis limbah tidak bisa dimanfaatkan untuk kerajinan.

’’Tunggak kayu ini tidak bisa dimodifikasi, apalagi untuk tambal sulam,’’ jelasnya

www.wawasandigital.com

Temukan informasi lainnya mengenai
Handicraft Export | Wooden Handicraft | Handicraft Shop | Wooden Export | Wooden Shop | Handicraft hanya di Handicraft Export : Wooden Handicraft Export & Handicraft Export Shop Semarang pada 88db.com

{ 0 komentar ... read them below or add one }